Rabu, 13 Desember 2017

Melatih kemandirian 4

Sudah hari ke empat... Dan saya semakin tertohok tohok.. huhuhuhhuu

Ketika kita membuat keputusan untuk melatih kemandirian pasangan,sejatinya kita yang belum mandiri.

Seperti saya, ketika melakukan tantangan ini, tiap waktu jadi tambah merenung..

Ketika septi sedikit menuntut soal "handuk setelah mandi di taruh jemuran belakang" secara kasat mata it's easy to do it. Tapi ad makna tersirat dibalik kegiatan suami tsb.

Awalnya.. saya nesu bin ngrundel ketika mendapati handuk terkulai manja di kasur. Semakin ke sini semakin saya paham. Beliau melakukan itu untuk mendidik saya dengan cara beliau. Karena beliau paham betul dengan sifat saya, dan beliau mendidik dengan cara beliau. Ibarat kata beliau akan cakap macam nie...

"Gini loo bun.. bunda itu biar g lelah beberes yuk mulai letakkan semua barang kembali di tempatnya bun. Selain bunda juga pelupa, biar gampang juga mencari barang tsb. Selain itu, keluarga kita dulu cukup berantakan soal kerapihan rumah,nah ayo kita putus mata rantainya, biarkan ananda melihat kita ini disiplin dan rapi."

So.. i couldn't say anything.

Apa yang beliau lakukan ya sejatinya untuk kebaikan kami sekeluarga.

Dan tantangan handuk still go on..

Dibarengi dengan tantangan kunci untuk diri saya sendiri..

#day4
#sebuahperenungan

Melatih kemandirian 3

Sudah hari ke tiga sejak dimulainya tantangan tsb. Daan sayapun dpt kejutan.

"Nda... Ayo bunda juga belajar mandiri."

"Heh... Maksudnya yang?"

"Lha kuwi... Letakkan kembali di tempat semula. Kunci motor haruse dimana tempatnya?"

"Wkwkwwkwk... Ok yang.. dadi aku sing keno iki."

"Ngene loo nda... Ketika kita disiplin meletakkan kembali barang barang pada tempatnya, maka bunda tidak butuh waktu lama untuk beberes kembali, jd rumah tetep bersih."

"Njih sayang."

Dan sayapun termenung, termangu. Dalam hatipun berkata...

 "Tibakne aku yang harus dilatih mandiri dulu, baru menularkan ke orang lain."

___________________________

Bagaimana nasib handuk saat itu?

Alhamdulillah... Sudah tidak terkulai manja di atas kasur, sudah pindah di gantungan baju kamar..

Yes...kemajuan

#day3

Melatih kemandirian 2

"Yang.. air panas sudah dituang, handuk dan ganti sudah siap di kamar mandi ya."

Adalah salah satu bentuk percakapan kami tiap pagi..

"Yaang.. kuwi loo airnya selak dingin.. gek ndang ke kamar mandi." Lanjutan kalimat saya ketika masih saya dapati beliau masih asik bermain dengan ananda.

Dan memang sengaja di hari kedua saya tidak mengingatkan rule kami..

Baju kerja sudah disiapkan, tinggal menunggu beliau siap siap tindak kerja.

Dan as usual... Handuk itu terkulai manja di atas kasur. Saya hanya bisa nyengir.

"Yang.. iki anduk kok isih disini?"

"Kan ayah sayang bunda.. nti bunda dapat pahala lebih dr Alloh. Karena sudah bantu beresin handuk ayah."

Kalau udah digituin maah mau ngomong apa saya maah..

#day2stillfailed


Melatih Kemandirian 1

Alhamdulillah sudah masuk game level dua di kuliah Bunda Sayang. Masuk ke Materi Melatih Kemandirian.

Awalnya bimbang antara ananda atau suami, hingga akhirnya diputuskan yaa kami lakukan berdua, saya dan suami.

Mengapa suami.. karena kami punya tantangan untuk bisa meletakkan kembali barang barang ditempat semula. Dan dimulai dari handuk.

Suami kalau setelah mandi, handuk diletakkan di centelan kamar. Maksud saya setelah mandi diletakkan di jemuran belakang. Dan dimulailah tantangan ini. Mengkomunikasikan ke beliau tentang melatih kemandirian.

"Yang... Handuknya setelah mandi diletakkan di jemuran belakang."

No answer at all..

Dan jeng jeng...

Masih tergeletak lemas di atas kasur handuknya.. hadeh..

#day1failed


Kamis, 16 November 2017

komunikasi produktif 10

yogyakarta 17 november 2017

beberapa hari agak lumayan pelajaran yang saya ambil. terutama managemen baper, hihihihi.

ada satu pengalaman dimana saya merasa "weh kok gini yaa, jane karepe opo to?"

dan ketika perasan tersebut tidak diurai dan tidak tersampaikan dengan baik maka akan mempengaruhi kerja satu kerajaan.

pun saya memint awaktu lagi kepada ayah untuk sekedar mendengarkan ketidak enakan perasaan saya.

sekedar sharing, dan beliau bilang "ya ungkapkan apa yang kamu rasakan, jangan berasumsi."

pun akhirnya ketemu, dan ternyata perasaan ini yang Alloh kirimkan ke saya terjawab. dan saya cukup tahu.. ohh iyaa begitu to.

daaan tantangan saya adalah ketika saya semakin menggila dengan tidak mengatur jam online, hingga dapat surat cinta dari ayah tersayang.

"ketika yang utama menjadi yang bukan utama begitu pula sebaliknya maka sebaiknya bunda merenung"

merombak segala hal yang berhubungan dengan dunia online, mulai dari jam online dan tanggung jawab di dunia per online an.

dan pagi ini sebelum ananda sekolah, saya menyelesaikan tugas kuliah bunda sayang. setiap pagi bangun jam 3 menyelesaikan kewajiban untuk diri saya dan tugas tuga syang lain.

selama 10 hri lebih menerapkan komunikasi produktif bnayak sekali perubahan dalam diri saya pribadi, dan ananda.

hingga sya akhirnya memutuskan untuk memilih prioritas utama adalah keluarga.

melepaskan amanah yang sudah saya sanggupi beberapa waktu lalu untuk kembali lagi ke keluarga, karena saya sampai sekarang masih meraba dan berusaha adaptasi. melepaskan amanah bukan karena tidak sanggup, tapi lebih ke tujuan awal. untuk apa saya bergabung di komunitas ini, tujuan awalnya apa.

terlalu banyak hal yang memang sangat mengganjal di hati ketika saya semakin dalam tahu, ada beberapa hal yang memang menurut saya sebagai orang awam tidak pas, dan sangat mengganggu. (akhirnya saya kembali bercermin, apakah saya pantas?)

ijinkan saya belajar memperbaiki diri saya dulu, belajar dalam perkuliahan bunda sayang, menerapkannya dalam keluarga secara istiqomah, minimal saya bermanfaat untuk keluarga saya.

duh kok jadi curhat...

i'm still here.. berjuan gmelawan kelemahan saya, dan semoga saya bisa lulus dengan baik plus istiqomah.

tetep dalam lingkaran positif yang saling menguatkan,

hari ini sudah berjalan dengan baik komunikasinya tinggal memanajemen hati dan pikiran agar tidak tampak di luar.

terima kasih IIP terim kasih. 

Komunikasi Produktif 9



Yogyakarta, 12 november 2017

Sudah masuk hari senin, alhamdulillah.
Beberapa hari ini, ada sesuatu yang menggelitik batin saya dan pikiran saya. Sesuatu yang menurut saya ini harus segera diluruskan.
Dan akhirnya saya sampaikan ke suami.. saat ananda sedang mempersiapkan kebutuhan sekolahnya.
” Yang.. mau ngobrol bentar dunk..”
Langsung suami fokus siap mendengarkan. Karena tidak biasanya saya mengawali dengan kalimat tersebut.
”yang.. kalau ayah nie diajari ketrampilan dan orang yang ngajari ayah juga jual bahannya kira kira nie kalau ayah beli bahan di tempat lain, em ayah punya attitude ndak?”
”lapo to nda kok muter muter ae..”
”jadi gini, bunda tu dicurhati kawan seperti kasus tersebut di atas, dan sesungguhnya bunda agak gak sreg dalam hal tersebut. Pun di grup WAG dibahas pula beli di toko X harga sekian, di online shop harga sekian bahan bahan tersebut, padahal di dalam grup tersebut ada yang ngajari kami.”
”terus nda..”
”sedih aja yah, pan bisa dijapri sebenarnya kalau misal ada yang butuh info diman abeli bahan yang murah"
"lha bunda nyaman ndak di komunitas tersebut? ora usah dijawab, bunda tahu apa yang harus bunda lakukan."

dan terdengar suara merdu dari kamar sebelah...
"bundaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... celanaku mana?" kenceng bener anak ini teriaknya. salah satu caranyha utnuk menarik perhatian saya.
"iyaaa naak sebentar."
sayapun berlari mendekati ananda. 
"itu apa" sambil nunjuk di tumpukan bajunya ada celana nyempil disitu.
"hehehehe.. bunda di sini aja nemenin aku."
"iya tapi pake baju sendiri ya."
"iya nda.."

"kak kira kira nie, kalau kaka tiap pagi teriak teriak gitu sakit ndak telinganya?"
"ndak tu nda.."
dieng salah kasih petanyaan, efek lagi susah fokus.

"ok kak.. yuk lanjut siap siap.."


wanita itu ternyata juga perlu didengarkan loo, walaupaun cuma 5 menit. sekedar mendengarkan kegelisahan hatinya, itu sudah cukup membuatnya bahagia.

komunikasi produktif 8



Yogyakarta, 12 November 2017

Pagi ini bangun sudah super pagi, karena malam sebelumnya sudah disampaikan bahwa pagi ini kami akan olahraga di luar rumah. Tujuannya adalah ke Malioboro, seumur umur tinggal di Jogja belum pernah pagi hari jam 5 gitu jalan jalan di Malioboro.

Dan ternyata eksekusinya betul jam 5 pagi, kami naik Silver (nama yang kami berikan kepada motor ayah ZX 130) muterin jogja eh rutenya berubah, pak supir (ayah) lebih seneng ke alun alun selatan, ternyata eh ternyata ayahanda sudah laper hehehe, dan kamipun mencari sarapan pagi, ananda makan bubur ayah makan nasi soto, bunda belum jamnya sarapan.

Sesampainya di alun alun kidul alhamdulillah lagi bersyukur betul, ada acara Gerakan Masyarakat Sehat disingkat GERMAS (semoga tidak salah ya) dalam rangka Hari Kesehatan Nasional. Ada banyak stand di alun alun kidul. Kamipun menjelajah tiap stand. Dan sampailah kami di stand BPOM, senengnya saya bisa menjelaskan makanan makanan yang sekiranya berbahaya untuk kesehatan.

”Kak sini deh.”
”apa Nda?”
”kakak tahu ini apa?”
”kerupuk nda”
”kerupuknya warnanya apa kak?”
”merah Nda.. pakai pewarna itu ya Nda?”
”iya kak, namanya Rhodamin B. Itu pewarna berbahaya untuk kesehatan tubuh.”
”bisa sakit ya Nda?”
”iya sayang, salah satunya bisa sakit perut. Kakak mau dapat hadiah tidak? Ada kuis ini.”
”mau Nda”
”ditulis dulu nama kakak.”

Sambil menunggu ananda menulis nama, saya memilih pertanyaan  yang sekiranya ananda bisa menjawabnya di pohon pertanyaan.

”sudah kak?”
”sudah nda.”
”pertanyaan nomor 22, apakah dibolehkan membungkus makanan menggunakan seteples.”

Heemmmm.... mikir lama ananda.
”jadi kak, kaka tahu isi seteples?”
”iya nda.”
”kira kira nie bahaya tidak kalau tertelan?”
”bahaya nda, itukan dari besi, bisa luka lidah kita.”
”nah berarti boleh tidak nak?”
”tidak.”
”oke ditulis sayang.”

Dan ananda pun menyerahkan hasil jawabannya kepada petugas BPOM dan ananda memilih hadiah komik (baru seneng senengnya membaca)

salah satu pojok selfie
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan di sebelah gedung Sasana Hinggil, ada kegiatan donor darah dan pemeriksan TORCH gratis. Saya pun daftar dan karena tidak membawa syarat pemeriksaan saya memutuskan untuk pulang, melengkapi syarat syarat tersebut, ananda bermain dengan ayah di alun alun.

Syarat alhamdulillah sudah beres, ngantri lama.

Pemandangan di hadapan saya bener bener membuat hati trenyuh, ada seorang bapak yang sudah ngantri dari pagi untuk memeriksakan anaknya yang sudah menikah, apakah anakku sehat, kok belum hamil setelah keguguran. Dalam benak saya, bapak ini cintanya dan kasih sayang ke anaknya luar biasa, saya trenyuh kelingan bapak saya sampai saat ini belum bisa berbakti secara baik kepada beliau. Semoga bapak saya diparingi umur panjang dan berkah, bisa segera ke Baitullah aamiin.

Selama periksa ada berita duka masuk, ayah dari teman saya meninggal dunia. Setelah periksa kami melanjutkan perjalanan ke rumah duka dan menunggu agak lama sampai jenazah datang.

Hari minggu ini full lari lari kegiatannya, plus hujan hujanan hehehehe.. banyak perubahan dalam diri saya ketika menerapkan komunikasi produktif tersebut, dan ananda jadi sangat berkurang tantrumnya. Ketika saya lelah, saya komunikasikan ke ayah, saya butuh jeda yah, sebentar saja ya. Sama halnya ketika saya ada sedikit konflik batin tentang sesuatu hal.. akan saya uraikan di tulisan selanjutnya...