Kamis, 16 November 2017

Komunikasi Produktif 9



Yogyakarta, 12 november 2017

Sudah masuk hari senin, alhamdulillah.
Beberapa hari ini, ada sesuatu yang menggelitik batin saya dan pikiran saya. Sesuatu yang menurut saya ini harus segera diluruskan.
Dan akhirnya saya sampaikan ke suami.. saat ananda sedang mempersiapkan kebutuhan sekolahnya.
” Yang.. mau ngobrol bentar dunk..”
Langsung suami fokus siap mendengarkan. Karena tidak biasanya saya mengawali dengan kalimat tersebut.
”yang.. kalau ayah nie diajari ketrampilan dan orang yang ngajari ayah juga jual bahannya kira kira nie kalau ayah beli bahan di tempat lain, em ayah punya attitude ndak?”
”lapo to nda kok muter muter ae..”
”jadi gini, bunda tu dicurhati kawan seperti kasus tersebut di atas, dan sesungguhnya bunda agak gak sreg dalam hal tersebut. Pun di grup WAG dibahas pula beli di toko X harga sekian, di online shop harga sekian bahan bahan tersebut, padahal di dalam grup tersebut ada yang ngajari kami.”
”terus nda..”
”sedih aja yah, pan bisa dijapri sebenarnya kalau misal ada yang butuh info diman abeli bahan yang murah"
"lha bunda nyaman ndak di komunitas tersebut? ora usah dijawab, bunda tahu apa yang harus bunda lakukan."

dan terdengar suara merdu dari kamar sebelah...
"bundaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... celanaku mana?" kenceng bener anak ini teriaknya. salah satu caranyha utnuk menarik perhatian saya.
"iyaaa naak sebentar."
sayapun berlari mendekati ananda. 
"itu apa" sambil nunjuk di tumpukan bajunya ada celana nyempil disitu.
"hehehehe.. bunda di sini aja nemenin aku."
"iya tapi pake baju sendiri ya."
"iya nda.."

"kak kira kira nie, kalau kaka tiap pagi teriak teriak gitu sakit ndak telinganya?"
"ndak tu nda.."
dieng salah kasih petanyaan, efek lagi susah fokus.

"ok kak.. yuk lanjut siap siap.."


wanita itu ternyata juga perlu didengarkan loo, walaupaun cuma 5 menit. sekedar mendengarkan kegelisahan hatinya, itu sudah cukup membuatnya bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar