Kamis, 16 November 2017

komunikasi produktif 7



Yogyakarta, 11 November 2017

Pagi ini kami sekauarga akan melakukan kunjungan ke Panti Asuhan Luar Biasa di daerah Pajangan Bantul. Dan memang Alloh sudah mentakdirkan lain, saya dan ananda saja yang bisa berangkat. 


Sebelum berangkat ke panti asuhan, saya dan suami memberikan pengertian kepada ananda..

”Kakak hari ini akan kemana?”
”ke panti asuhan Nda.”
”kakak sudah tahu kalau buda tidak menemani di dalam bis?”
”iya bunda sudah, bu Guru juga bercerita kalau kita tidak boleh ditemani orang tua”
”nanti bunda mengawasi dari jauh ya, karena bunda membantu ibu guru.”
”iya bunda, bunda tidak usah khawatir, aku bisa bun dan berani.”

Saya tersenyum dan memeluknya, walaupun sejatinya di hati ada rasa haru. Cepat sekali engkau tumbuh nak.

Acara hari ini adalah acara rutin kegiatan TK ananda, dan kebetulan saya dan beberapa mama wali murid turut serta mendampingi di acara tersebut.

Sudah saya komunikasikan ke suami, jika dalam acara tersebut mohon maaf bunda tidak bisa menerima telp dan  bisa komunikasi via teks WA karena memang saya tidak enak dengan panitia lain jika menerima telp.

Sepanjang perjalanan, saya lebih banyak ngobrol dengan mama mama wali murid, karena kami satu mobil sedangkan ananda di dalam bis yang disewa TK.

Dan sesampainya di rumah, kami (saya dan suami) mendengarkan ananda bercerita kembali tentang pengalamnya ketika di panti asuhan. Panti asuhan yang kami kunjungi adalah panti asuhan yang mengasuh anak anak yang berkebutuhan khusus. 


Dan inilah cerita ananda.

”ayah, tadi aku ke panti asuhan lo. Naik bis duduk bersebalahan dengan temanku.”
”iya.. cerita apa saja tadi kak?”
”jadi tu, tadi perjalananya jauh yah, naik naik jalannya melewati sawah sawah.”
”kakak suka naik bis?”
”iya yah, tapi lain kali jangan bis yang jelek lagi.”

Saya menjadi pendengar, karena berusaha menahan diri untuk tidak berkomentar.

”alhamdulillah bisa naik bis kak.”
”iya yah, dan tadi aku belajar bersyukur punya badan yang lengkap yah.”
”alhamdulillah, tadi di panti lihat apa saja kak?”
”tadi di panti lihat kakak kakak panti main rebana yah, nyanyi gitu. Ada yang tidak bisa lihat, ada yang tangannya tidak bisa digerakkan (maksudnya ananda adalah tangannya cacat dari lahir, ukurannya lebih kecil dari tangan normal), ada yang mukanya gini terus yah (sembari ananda memperlihatkan muka yang dimaksud, maksud ananda adalah kakak kakak yang mengidap down syndrome).”
”terus kak” saking antusiasnya sampai tersepona mendengarkan dan melihat ananda bercerita.
”kakak kakaknya pinter bunda, main gamelan pake kaki, terus Nda mukanya senyum terus. Gak kayak bunda tu merengut aja merengut aja”

Sayapun senyum.. ayah pun juga hehehehe...
”terus yah, kakaknya bisa buat kipas, boneka, keset, dan batik. Dijual itu yah. Tapi tadi kakak tidak beli karena tadi tidak diberi uang saku yah.”
”wah kakak kakaknya hebat ya, bisa berkreasi dan menghasilkan karya walaupun dalam keterbatasan ya nak”
”iya yah..”
Hasil Karya kakak kakak di panti asuhan, hasil karya ini dijual dan digunakan untuk mencukupi kebutuhan panti.

”setelah dari panti kemana?”
 ”setelah dari panti ke batik topo yah.Tadi tu sebelum sampai batik topo bisnya nyasar muter muter gitu, bingung pak sopirnya.”
”oh yaa? Terus nak”
”alhamdulilah yah sampai, tapi yah jalannya jauh, bisnya parkir di pinggir jalan, nah batik toponya itu jalannya masuk masuk gitu.”
”capek sayangku?”
”iya yah..sampai habis teh yang dibawain bunda. Nah yah sampai di batik topo, aku belajar buat batik, pake alat itu yah apa yah namanya? Apa ya Nda namanya. Jadi tu diambil dari wajan kecil panas ditiup tiup alatnya.”
”Canting kak.”
”Nah iya itu bunda, jadi cantingnya dimasukkan ke wajan. Wajan itu isinya cairan coklat, panas banget yah sampai kawanku tangannya kepanasan (melepuh) kena cairan ini yah, kasian nangis gitu kenceng.”
”cairan coklat itu namanya malam kak, awalnya bentuknya padat dan dicairkan di atas api sampai panas, kalau tidak panas dia akan membeku kembali. Jadi ketika kita membatik kita harus hati hati kak, karena cairan malam itu sangat panas. Semoga teman kakak tangannya lekas sembuh ya aamiin.”
”iya yah tadi aku hati hati yah, pelan pelan gitu. ada vidionya ayah, bunda minta tolong pinjam hp putih, mau lihat vidio aku membatik nda.”

Dan setelah itu kami asyik melihat proses membatik ananda.


Ananda belajar membatik

Bersyukur karena kami berkesempatan menjadi salah satu bagian dalam kegiatan baksos tersebut dan ananda bisa mengambil nilai positifnya. Ketika keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk berkarya, ketika keterbatasan bukan alasan untuk selalu mengeluhkan keaadaan. Dan ketika keterbatasan menjadi salah satu sumber semangat untuk lebih bisa mandiri. Aah.. trenyuh saya ketika bertemu anak anak di panti tersebut, dan lebih trenyuh lagi ketika anak kami tidak takut untuk sekedar salaman dengan anak anak penghuni panti, dimana kebanyakan teman temannya takut.  Dan ananda pun ingat pesan saya semalam sebelum kami melakukan kegiatan ini, karena ada proses membatik maka saya memberi gambaran dulu bagaimana proses membatik, sehingga ananda tahu harus bagaimana.

Komunikasi adalah seni, seni menyampaikan apa yang kita rasakan, apa yang ada dihati dan diotak, bagaimana menjadikan keduanya sinkron dan disampaikan lewat lisan sehingga yang mendengarpun jadi paham.

Alhamdulillah untuk hari ini ya Rabb..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar