Yogyakarta, 11
November 2017
Pagi ini kami
sekauarga akan melakukan kunjungan ke Panti Asuhan Luar Biasa di daerah
Pajangan Bantul. Dan memang Alloh sudah mentakdirkan lain, saya dan ananda saja
yang bisa berangkat.
Sebelum berangkat
ke panti asuhan, saya dan suami memberikan pengertian kepada ananda..
”ke panti asuhan
Nda.”
”kakak sudah tahu
kalau buda tidak menemani di dalam bis?”
”iya bunda sudah,
bu Guru juga bercerita kalau kita tidak boleh ditemani orang tua”
”nanti bunda
mengawasi dari jauh ya, karena bunda membantu ibu guru.”
”iya bunda, bunda
tidak usah khawatir, aku bisa bun dan berani.”
Saya tersenyum
dan memeluknya, walaupun sejatinya di hati ada rasa haru. Cepat sekali engkau
tumbuh nak.
Acara hari ini
adalah acara rutin kegiatan TK ananda, dan kebetulan saya dan beberapa mama wali
murid turut serta mendampingi di acara tersebut.
Sudah saya
komunikasikan ke suami, jika dalam acara tersebut mohon maaf bunda tidak bisa
menerima telp dan bisa komunikasi via
teks WA karena memang saya tidak enak dengan panitia lain jika menerima telp.
Sepanjang
perjalanan, saya lebih banyak ngobrol dengan mama mama wali murid, karena kami
satu mobil sedangkan ananda di dalam bis yang disewa TK.
Dan sesampainya
di rumah, kami (saya dan suami) mendengarkan ananda bercerita kembali tentang
pengalamnya ketika di panti asuhan. Panti asuhan yang kami kunjungi adalah
panti asuhan yang mengasuh anak anak yang berkebutuhan khusus.
Dan inilah
cerita ananda.
”ayah, tadi aku
ke panti asuhan lo. Naik bis
duduk bersebalahan dengan temanku.”
”iya.. cerita apa
saja tadi kak?”
”jadi tu, tadi
perjalananya jauh yah, naik naik jalannya melewati sawah sawah.”
”kakak suka naik
bis?”
”iya yah, tapi
lain kali jangan bis yang jelek lagi.”
Saya menjadi
pendengar, karena berusaha menahan diri untuk tidak berkomentar.
”alhamdulillah
bisa naik bis kak.”
”iya yah, dan
tadi aku belajar bersyukur punya badan yang lengkap yah.”
”alhamdulillah,
tadi di panti lihat apa saja kak?”
”tadi di panti
lihat kakak kakak panti main rebana yah, nyanyi gitu. Ada yang tidak bisa
lihat, ada yang tangannya tidak bisa digerakkan (maksudnya ananda adalah
tangannya cacat dari lahir, ukurannya lebih kecil dari tangan normal), ada yang
mukanya gini terus yah (sembari ananda memperlihatkan muka yang dimaksud,
maksud ananda adalah kakak kakak yang mengidap down syndrome).”
”terus kak”
saking antusiasnya sampai tersepona mendengarkan dan melihat ananda bercerita.
”kakak kakaknya
pinter bunda, main gamelan pake kaki, terus Nda mukanya senyum terus. Gak kayak
bunda tu merengut aja merengut aja”
Sayapun senyum..
ayah pun juga hehehehe...
”terus yah,
kakaknya bisa buat kipas, boneka, keset, dan batik. Dijual itu yah. Tapi tadi
kakak tidak beli karena tadi tidak diberi uang saku yah.”
”wah kakak kakaknya
hebat ya, bisa berkreasi dan menghasilkan karya walaupun dalam keterbatasan ya
nak”
”iya yah..”
![]() |
| Hasil Karya kakak kakak di panti asuhan, hasil karya ini dijual dan digunakan untuk mencukupi kebutuhan panti. |
”setelah dari panti ke batik topo yah.Tadi tu
sebelum sampai batik topo bisnya nyasar muter muter gitu, bingung pak
sopirnya.”
”oh yaa? Terus
nak”
”alhamdulilah yah
sampai, tapi yah jalannya jauh, bisnya parkir di pinggir jalan, nah batik
toponya itu jalannya masuk masuk gitu.”
”capek sayangku?”
”iya yah..sampai
habis teh yang dibawain bunda. Nah yah sampai di batik topo, aku belajar buat
batik, pake alat itu yah apa yah namanya? Apa ya Nda namanya. Jadi tu diambil
dari wajan kecil panas ditiup tiup alatnya.”
”Canting kak.”
”Nah iya itu
bunda, jadi cantingnya dimasukkan ke wajan. Wajan itu isinya cairan coklat,
panas banget yah sampai kawanku tangannya kepanasan (melepuh) kena cairan ini
yah, kasian nangis gitu kenceng.”
”cairan coklat
itu namanya malam kak, awalnya bentuknya padat dan dicairkan di atas api sampai
panas, kalau tidak panas dia akan membeku kembali. Jadi ketika kita membatik kita harus hati hati
kak, karena cairan malam itu sangat panas. Semoga teman kakak tangannya lekas
sembuh ya aamiin.”
”iya yah tadi aku
hati hati yah, pelan pelan gitu. ada vidionya ayah, bunda minta tolong pinjam
hp putih, mau lihat vidio aku membatik nda.”
Dan setelah itu
kami asyik melihat proses membatik ananda.
![]() |
| Ananda belajar membatik |
Bersyukur karena kami
berkesempatan menjadi salah satu bagian dalam kegiatan baksos tersebut dan
ananda bisa mengambil nilai positifnya. Ketika keterbatasan bukan menjadi
penghalang untuk berkarya, ketika keterbatasan bukan alasan untuk selalu
mengeluhkan keaadaan. Dan ketika keterbatasan menjadi salah satu sumber
semangat untuk lebih bisa mandiri. Aah.. trenyuh saya ketika bertemu anak anak
di panti tersebut, dan lebih trenyuh lagi ketika anak kami tidak takut untuk
sekedar salaman dengan anak anak penghuni panti, dimana kebanyakan teman
temannya takut. Dan ananda pun ingat
pesan saya semalam sebelum kami melakukan kegiatan ini, karena ada proses
membatik maka saya memberi gambaran dulu bagaimana proses membatik, sehingga
ananda tahu harus bagaimana.
Komunikasi adalah
seni, seni menyampaikan apa yang kita rasakan, apa yang ada dihati dan diotak,
bagaimana menjadikan keduanya sinkron dan disampaikan lewat lisan sehingga yang
mendengarpun jadi paham.
Alhamdulillah
untuk hari ini ya Rabb..




Tidak ada komentar:
Posting Komentar