Yogyakarta, 10 November 2017
Pagi ini kami berencana berenang, ternyata
takdir Alloh berkata lain. Alhamdulilah ada undangan pengajian di Masjid Kampus
UGM dan akhirnya kami (saya dan ananda mengubah jadwal berenang kami) Apakah
mudah? Alhamdulillah semenjak menerapkan komunikasi produktif anada jadi jarang
tantrum dan marah. Bentuk komnikasi kami.
“Kak.. maaf ya
hari ini kita belum jadi berenang.”
”lhooo kenapa
Nda” (biasanya ananda menangis dan tantrum, alhamdulillah sudah mulai selow)
”Bunda dan tante dina
(guru renang ananda) ada pengajian di masjid kampus UGM kak”
”Terus kapan
Nda..”
”Insya
Alloh kamis pagi ya,”
“baik nda…”
Alhamdulillah
saya tidak perlu melihat adegan drama ananda menangis.
Dan sayapun
bisa mengikuti pengajian bersama teman saya di Masjid Kampus UGM.
Pengajian
yang tadi saya ikuti materinya tentang
komunikasi dalam rumah tangga.
Saya jadi
berkeinginan menulis tentang Komunikasi. Komunikasi itu kelihatannya sepele
akan tetapi Masya Alloh luar biasa ilmunya, sampai suami saya kuliah lagi di
Ilmu Komunikasi. (sedikit banyak saya mendapat ilmunya terutama bagaimana
menghargai lawan bicara ketika kita berkomunikasi, akan saya uraikan di tulisan
selanjutnya)
Komunikasi
dalam hubungan itu penting, ibarat kata seperti Oksigen untuk hidup dan tanpa itu maka kita akan mati. Nah terkadang
sebagian besar manusia terutama kaum hawa suka sejenak menganggap pasangannya
menjadi ”dukun/paranormal”. Salah satu contohnya, pernahkah terlintas dalam
pikiran kita ”Tidak perlu kita utarakan maksud hati nanti dia akan mengerti” Terkadang kita sebagai kaum Hawa kalau
sedang marah atau ada keinginan akan sesuatu lebih sering diam, marah diam,
ingin suami melakukan sesuatu misal membantu membereskan rumah ya diam, ingin
disayang ya diam seribu bahasa berharap dia mengerti apa yang kita rasakan
tanpa kita berucap sepatah katapun.
Naah, terkadang
kita terlalu memiliki ekspetasi yang tinggi akan suatu hal, dan itu tidak
terkomunikasikan dengan baik plus ada bumbu bumbu asumsi yang membuatnya
semakin ”gurih” dalam arti tambah merusak hubungan. Karena asumsi itu
sebenarnya penyakit, penyakit yang bisa merusak suatu hubungan baik hubungan
berumah tangga atau hubungan antar sesama makhluk hidup.
Jadi inget ketika
ayah menyampaikan ”bunda sayang, ayah ini bukan dukun yang bisa menebak isi hati
bunda.” hihihihii dan setelah kejadian miss persepsi waktu itu kami sering
ngobrol berdua, dan waktunya biasanya setelah anada tidur (kalau kami tidak ikut
tidur juga). Lebih kepada tentang kita, jika komunikasi tentang ananda maka
kami melibatkan ananda dalam komunikasi, memberikan kesempatan kepada ananda
untuk menyampaikan keinginannya, harapannya bahkan kritik kepada kami. Hal ini
kami lakukan karena pernah ada kejadian yang memiliki kesan saya sebagai ibu
terlalu memaksakan kehendak, hingga pernah satu waktu ananda berucap
”Bunda itu suka
maksa, saya tidak mau itu.” menangislah ananda dengan gaya tantrumnya yang luar
biasa.
Dan setelah itu,
ayah memberikan teguran halus kepada saya,
”Hargailah
pendapat anakmu, selama itu tidak melanggar norma agama.”
Belum terlambat
untuk berubah menjadi lebih baik. Butuh waktu memang, tinggal kita mau atau
tidak.
Karena komunikasi
yang baik adalah komunikasi yang tanpa asumsi, tanpa amarah, tanpa replay dan
fokus. Dan selalu berupaya untuk merefleksikan ke diri sendiri ”apakah yang
saya ajak komunikasi paham dengan maksud saya?” boleh kok kita mengkonfirmasi
apa yang diterima kepada yang kita ajak komunikasi.biar tidak ada miss miss yang lain :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar