Kamis, 16 November 2017

komunikasi produktif 6



Yogyakarta, 10 November 2017

Pagi ini kami berencana berenang, ternyata takdir Alloh berkata lain. Alhamdulilah ada undangan pengajian di Masjid Kampus UGM dan akhirnya kami (saya dan ananda mengubah jadwal berenang kami) Apakah mudah? Alhamdulillah semenjak menerapkan komunikasi produktif anada jadi jarang tantrum dan marah. Bentuk komnikasi kami.

“Kak.. maaf ya hari ini kita belum jadi berenang.”
”lhooo kenapa Nda” (biasanya ananda menangis dan tantrum, alhamdulillah sudah mulai selow)
”Bunda dan tante dina (guru renang ananda) ada pengajian di masjid kampus UGM kak”
”Terus kapan Nda..”
”Insya Alloh kamis pagi ya,”
“baik nda…”

Alhamdulillah saya tidak perlu melihat adegan drama ananda menangis.

Dan sayapun bisa mengikuti pengajian bersama teman saya di Masjid Kampus UGM.


Pengajian yang tadi saya ikuti materinya  tentang komunikasi dalam rumah tangga.

Saya jadi berkeinginan menulis tentang Komunikasi. Komunikasi itu kelihatannya sepele akan tetapi Masya Alloh luar biasa ilmunya, sampai suami saya kuliah lagi di Ilmu Komunikasi. (sedikit banyak saya mendapat ilmunya terutama bagaimana menghargai lawan bicara ketika kita berkomunikasi, akan saya uraikan di tulisan selanjutnya)

Komunikasi dalam hubungan itu penting, ibarat kata seperti Oksigen untuk hidup dan tanpa itu maka kita akan mati. Nah terkadang sebagian besar manusia terutama kaum hawa suka sejenak menganggap pasangannya menjadi ”dukun/paranormal”. Salah satu contohnya, pernahkah terlintas dalam pikiran kita ”Tidak perlu kita utarakan maksud hati nanti dia akan mengertiTerkadang kita sebagai kaum Hawa kalau sedang marah atau ada keinginan akan sesuatu lebih sering diam, marah diam, ingin suami melakukan sesuatu misal membantu membereskan rumah ya diam, ingin disayang ya diam seribu bahasa berharap dia mengerti apa yang kita rasakan tanpa kita berucap sepatah katapun.

Naah, terkadang kita terlalu memiliki ekspetasi yang tinggi akan suatu hal, dan itu tidak terkomunikasikan dengan baik plus ada bumbu bumbu asumsi yang membuatnya semakin ”gurih” dalam arti tambah merusak hubungan. Karena asumsi itu sebenarnya penyakit, penyakit yang bisa merusak suatu hubungan baik hubungan berumah tangga atau hubungan antar sesama makhluk hidup.

Jadi inget ketika ayah menyampaikan ”bunda sayang, ayah ini bukan dukun yang bisa menebak isi hati bunda.” hihihihii dan setelah kejadian miss persepsi waktu itu kami sering ngobrol berdua, dan waktunya biasanya setelah anada tidur (kalau kami tidak ikut tidur juga). Lebih kepada tentang kita, jika komunikasi tentang ananda maka kami melibatkan ananda dalam komunikasi, memberikan kesempatan kepada ananda untuk menyampaikan keinginannya, harapannya bahkan kritik kepada kami. Hal ini kami lakukan karena pernah ada kejadian yang memiliki kesan saya sebagai ibu terlalu memaksakan kehendak, hingga pernah satu waktu ananda berucap

”Bunda itu suka maksa, saya tidak mau itu.” menangislah ananda dengan gaya tantrumnya yang luar biasa.

Dan setelah itu, ayah memberikan teguran halus kepada saya,
”Hargailah pendapat anakmu, selama itu tidak melanggar norma agama.”

Belum terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. Butuh waktu memang, tinggal kita mau atau tidak.

Karena komunikasi yang baik adalah komunikasi yang tanpa asumsi, tanpa amarah, tanpa replay dan fokus. Dan selalu berupaya untuk merefleksikan ke diri sendiri ”apakah yang saya ajak komunikasi paham dengan maksud saya?” boleh kok kita mengkonfirmasi apa yang diterima kepada yang kita ajak komunikasi.biar tidak ada miss miss yang lain :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar